Minggu, 01 April 2012

Give me a break !








By :Cyntia Surentu
I

Sore itu, senja yang teduh menaungi setiap sisi kota Jakarta yang sibuk. Laju kendaraan, tertahan di berbagai tempat karena macet yang konsisten meramaikan ekosistem kehidupan di ibukota tercinta. Lengkingan suara klatson dibarengi umpatan-umpatan kesal pengendara-pengendara mobil, menemani bergantinya hari dari merah senja menuju pekatnya hitam malam.
Mima duduk tak tenang didalam mobilnya. Disampingnya duduk Papap Toro, lelaki usia pertengahan yang sudah menjadi pengasuhnya sejak Mima- begitu Mima disapa- masih bayi.
Sore itu Mima baru saja pulang dari jalan-jalan ke Mal. Penampilannya begitu funky dengan setelan punk. Make-up dominan warna hitam menenggelamkan kemanjaan seorang gadis remaja, dan menciptakan tampilan garang khas gothic.
Mima memang tipe gadis modern yang suka ganti-ganti penampilan. Uniknya pada Mima, gadis ini tak mau menjadi korban mode. Maka dia berusaha mengatur penampilannya sesuka hati.
Soal dana, Mima tak ambil pusing. Toh dia masih berada dalam perwalian Elizabeth, kakaknya, yang menangani harta keluarga. Dan Beth amat memanjakannya.
Saat ini Mima tampak tak tenang. Beberapa kali dia merubah posisi duduknya, mencari letak yang lebih menyanangkan.
Papap....., macetnya masih lama, ya ? “ Ujar Mima merengek.
“ Sabar nona...., sepertinya sudah mulai maju...,” Balas Papap Toro mencoba wise.
“ Maju...maju....!!!!  Kok mobil ini belum terasa maju-maju, juga ? “ Mima makin berang.
“ Sabar sebentar saja, nona ! “ Papap Toror mencoba menenangkan.
Mima mendengus kesal. Kemacetan ini benar-benar membuatnya BT. Mana perutnya udah lapar banget, lagi !
Papap....., Mima lapar banget, nih ! “ Mima kembali merengek.
Papap terlihat bingung bercampur kasihan ketika mendengar rengekan itu. Rasa sayangnya semakin menjadi-jadi ketika mendengar suara sumbang keluar dari perut sang asuhan tercinta.
“ Waduh, bagaimana ini ? Di mobil ini kan nggak ada makanan, nona ! Bisa tidak, nona menunggu sampai di rumah ? “
“ Waduh Papap...., Mima keburu kolaps nih, Papap ! “ Rengek Mima sambil pura-pura pingsan.
“ Aduh....aduh..... Jangan menakuti Papap seperti itu, dong nona ! “
“ Makanya, cariin Mima makanan dong, Papap ! “
“ Baik....baik..... “
Papap Toro segera keluar dari mobil. Jejeran mobil yang sama-sama terperangkap macet terlihat panjang, baik di depan maupun di belakang mobil mereka.
Papap Toro mengedarkan pandangannya ke semua arah. Berusaha mencari sambil sibuk berharap semoga ada restoran di dekat-dekat situ.
Sekejab matanya melihat papan nama sebuah restoran Padang kira-kira duapuluh meter dari situ. Papap Toro menarik nafas panjang. Sepertinya kemacetan ini akan berlangsung lama, makanya dirinya bisa lari membeli makanan kesana.
Ngos-ngosan Papap berlari menuju restoran Padang itu. Dengan celana panjang berkanji, kemeja putih terseterika rapi, dasi kupu-kupu yang membuatnya mirip Hitler, dan rompi abu-abu gelap, Papap mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang ada berpacu dengan waktu macet berakhir.
Untung Papap tak pernah absen minum susu kalsium setiap hari, sehingga tulang dan staminanya nggak malu-maluin untuk ukuran  orangtua.
Sementara itu di dalam mobil, Mima mengacak-acak tasnya. Matanya melotot bahagia ketika sebungkus roti coklat ditemukannya disana.
“ Wah, ternyata Mima masih punya stok roti. Pak Soleh mau, nggak ? “ Seloroh Mima dengan wajah berseri.
Pak Rustam, Supir keluarga yang barusan ditawari roti hanya menunduk hormat lalu menggeleng. Dalam pikirannya, dia begitu kasihan dengan Papap Toro yang kini hilang entah kemana.
“ Wah..., wah..., Dapat susu kotak lagi nih, pak Soleh. Nggak percuma Mima beli tas ini jauh-jauh ke Hongkong. Ternyata tas ini ajaib...., “ Ucap Mima polos.
Gadis 17 tahun ini makan dengan lahapnya. Tak terbersit sedikit pun rasa bersalah untuk Papap Toro, yang saat itu masih ngotot-ngototan dengan pelayan , bertahan minta tambahan ayam goreng di restoran Padang.
Kembali ke mobil...,
Pak Soleh kaget ketika melihat mobil-mobil didepannya mulai maju jalan. Aduh, bagaimana ini ? Papap Toro kan masih hilang ! Tapi, saat ini mereka pun sedang berada di tengah jalan. Bunyi klatson mobil-mobil di belakangnya seakan memaksa untuk segera jalan.
“ Aduh pak Soleh...., jalan dong, pak ! Kok malah bengong, sih ? Mima udah nggak tahan lagi ngedengerin bunyi-bunyian itu..., “ Mima memekik kesal.
“ Tapi, Papap Toro....., “
“ Ah, Papap kan bisa naik taksi atau ojek, pak. Jalan aja...., “
“ Nona Mima sudah nggak lapar lagi ? “
“ Kan udah makan roti sama minum susu kotak, pak ! Ayo, mobilnya dijalanin aja !.....Mima udah kebelet pipis, nih ! “ Mima kembali merengek.
Dengan terpaksa pak Soleh mulai menjalankan mobil mewah itu. Rasa bersalah yang menggerogoti pikirannya membuat pak Soleh mulai terisak-isak. Maklum pak Soleh kan perasaannya sensitif banget. Nggak bisa ngadapin sesuatu yang melankolis gitu. lho !
Di restoran Padang, Papap Toro memenangkan adu ngomong melawan pelayan restoran. Dengan perasaan puas, Papap menenteng bungkusan nasi dan lauk-pauk, plus tambahan satu lagi dada ayam keluar dari restoran Padang. Tiba di pinggir jalan, Papap bungkam seribu bahasa. Mobil-mobil tampak melaju teratur di atas jalan besar. Tak ada lagi kemacetan yang panjang di jalan itu.
Papap Toro tak mampu bicara. Tangannya yang tengah menenteng makanan terangkat ke atas seakan meminta ditunggu. Setetes airmatajatuh ke pipinya yang tampak berkerut seraya mengucap beberapa kata.
“ Nona Mima...., Papap dapat tambahan ayam goreng......, “

*

Mima memasuki kamar besarnya yang adem. Poster-poster artis terlihat dimana-mana tapi yang dominan adalah poster Billy Ryanto, artis laki-laki yang sedang naik daun.
Mima mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Sesaat kemudian Mima tampak terpesona diatas tempat tidurnya sambil menatap lurus kedepan. Ternyata di langit-langit kamarnya, terpasang poster gede Billy Ryanto dengan posenya yang syur.
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di otak Mima. Kenapa dia tidak berusaha menemui Billy dan meminta artis Top itu menjadi pacarnya ? Kenapa dia hanya duduk mengagumi dan berlaku sebagaimana fans biasa ? Dia kan berbeda ! Mima cukup cantik dan punya status sosial yang tinggi.
Lagipula, mereka kan sama-sama tinggal di Jakarta. Mima tau, Billy punya banyak penggemar, tapi itu bukan masalah. Selama ini Mima selalu mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, jadi dirinya yakin kali ini pun tak akan menemui gagal.
Mima berpikir keras. Kiat apa yang harus dilakukan dan diusahakannya agar Billy mau menjadi pacarnya ?
Jika saja dia tau apa yang disukai dan yang tidak disukai Billy.
Artis biasanya menyembunyikan soal-soal pribadinya dari fansnya. Bagaimana Mima bisa menarik perhatian Billy apabila dia tak tau banyak tentang sang pujaan !
Huh...., sebal !
Tapi, eh !......, Bagaimana jika Mima mengutus seseorang untuk mencari tau segala sesuatu tentang Billy ? Semacam spy gitu, deh ! Nah, gaya kan, tuh !
Apa Papap bersedia, ya ? Dia kan satu-satunya harapan di rumah ini. Tapi, Papap kan rada kuno dan staminanya pun udah nggak memungkinkan, walau ngakunya sih, Papap tiap hari minum susu kalsium.
Atau............,
Ya....ya.....,
Jakarta punya banyak pemuda pengangguran. Kenapa nggak menyewa jasa salah satu dari mereka. Nah dengan begitu, selain Mima bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, Mima juga telah membantu pemerintah menuntaskan pengangguran dengan membuka lapangan kerja.
He...he...he......
Hebat !
Mulai besok, Mima akan mulai mencari pemuda pengangguran yang akan diserahinya tugas mulia itu.
Selamat malam...,

*



Hua......hua......hik....hik.....
Seorang pemuda tampak menangis dengan tampang menyedihkan di samping lampu merah. Wajahnya dipenuhi memar dan bonyok. Orang-orang yang kebetulan melintas di situ memandanginya dengan jijik. Sorot mata mereka serasa berkata ‘ nih orang, udah kurus, dekil, jelek,  nggak tau malu......, kok  hidup sih ?  
Semua hanya menghakimi. Tak ada seorang pun yang mau tau penyebab dirinya jadi seperti itu.
Panca – cie, namanya gaya, lagi !- hanya seorang korban dari keganasan hidup. Panca merasa tugasnya di dunia laksana penyedot debu. Bedanya dengan penyedot debu biasa, kehidupan Panca seperti menyedot ketidak-beruntungan dari orang lain. Dan akhirnya, semua kesialan itu seperti menumpahkan semua karmanya dalam kehidupan Panca.
Tak ada hari tanpa ketidak-beruntungan.
Dua hari yang lalu, Panca baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai spesialis cuci piring, di sebuah restoran Cina. Alasannya, mata Panca lebih sipit dibandingkan koh pemilik restoran yang sebenarnya, sehingga pelanggan restoran sering salah sangka menganggap Panca sebagai the owner.
“ Ini kan bukan salah gue ! “ Pekik Panca waktu itu seraya maksa mendapatkan kerjanya kembali.
Hasilnya, baru kali itu Panca merasakan ampuhnya jurus mabuk yang selama ini hanya pernah dilihatnya di film kungfu.
Belum terhitung kesedihan waktu dipecat dari limabelas pekerjaannya yang sebelumnya. Soalnya, pekerjaan cuci piring di restoran Cina adalah pekerjaannya yang ke enambelas.
Terus kemarin, Panca diusir paksa dari kos-kosannya karena udah beberapa bulan nggak bayar sewa. Alasan ibu kost masih mengijinkan Panca tinggal beberapa bulan terakhir, karena Panca gampang disuruh-suruh nimbain air di sumur saat kemarau melanda.
Nah, kemarin itu, kost-kosan si ibu dipasangi ledeng, makanya jasa Panca nggak diperlukan lagi. Dengan teramat tega, si ibu kost mempersilahkan Panca meninggalkan wilayah kekuasaannya.
Dasar Panca yang nggak gampang menyerah, membuat suami ibu kost yang masih turunan si Pitung, mengeluarkan jurus-jurus silatnya. Jadilah, bonyok di wajah Panca bertambah.
Dengan membawa beberapa barang milik pribadi beserta celengan ayam plastiknya yang ditaksir telah berisi sekitar seratusan ribu, Panca melangkah lunglai meninggalkan kost-kost-an.
Dalam hal menabung, Panca tak mau berat-berat mengisi celengannya dengan uang logam. Uang kertas yang masih bau Bank adalah incarannya.
Sejak kemarin Panca tinggal di daerah pemukiman kumuh. Seorang pemulung berbaik hati mengijinkan Panca menempati  samping rumah reotnya. Panca tak habis akal untuk menyambung selembar platik besar ke atap rumah pak pemulung, dan menjadikannya tenda darurat. Panca pun meminta dua lembar koran guna dijadikan alas tidurnya.
Jadilah dia, Panca Toro, pemuda pengangguran berumur 22 tahun, tidur beralaskan koran beratapkan plastik kresekan.
Barang-barangnya, berupa sebuah radio mini nan dekil peninggalan almarhum papanya, sebuntel kain berisi baju-baju tak seberapa, dan celengan ayam plastiknya, diletakkan di suatu sudut.
Malangnya, pagi tadi, satu jam setelah Panca berangkat mencari pekerjaan baru, pemukiman kumuh itu terbakar. Hilang sudah segala barang yang dimilikinya.
Siapa coba yang nggak bakalan stres !
Nah, itulah sebabnya sekarang ini Panca dengan wajah memprihatinkan, berdiri sambil memeluk erat-erat lampu merah, dengan harapan bisa mati disambar petir. ( ????? )
Kemacetan mulai terlihat memanjang. Suara tangisan Panca bersatu dengan suara pengamen, klatson mobil, penjaja makanan, penjaja koran, dsb.
Sementara itu, Mima dan Papap Toro kembali terjebak macet. Papap Toro tak kuatir tertinggal di jalan lagi, karena hari ini dirinya telah membawa semua barang yang kira-kira diperlukan Mima.
Mima melihat seorang penjual tabloid mendekat. Melihat yang menjadi cover dimajalah itu adalah Billy Ryanto, Mima membuka kaca mobilnya untuk memanggil sang penjual. Tak dinyana tiba-tiba sebuah kapak melesat cepat, dan berhenti tepat satu inci didepan hidungnya.
“ Nona !..., “ Pekik histeris Papap Toro lalu jatuh pingsan.
Seraut wajah garang muncul kemudian. Memperlihatkan pandangan galak kepada pak Rustam hingga dia tak mampu bergerak lagi, dan hanya mengeluarkan airmata kesal.
“ Wah............., kapaknya bagus deh ! Dijual ya, mas ? Mima beli, ya ! “
Dengan pancaran wajah kagum, Mima cepat membuka dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.
Mima menyodorkan lembaran uang itu kepada perampok jalanan yang kemudian menerimanya dengan tampang bloon.
“ Cukup nggak, pak ? “
Saking bingungnya, pak perampok hanya bisa menggeleng pasrah. Mima manggut-manggut mengerti.
Papap...Papap.... Bagi uang, dong ! “ Pinta Mima pada Papap Toro yang masih pingsan.
Mendengar tak ada jawaban, Mima menoleh pada Papap.
“ Eh, kok Papapnya malah tidur, sih ! “
Sendiri, Mima mengambil dompet Papap dari saku kemeja sang pengasuh. Mima mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dan satu lembar limapuluh ribuan kemudian langsung menyodorkannya pada komandan kapak merah.
“ Emang sih, seharusnya barang antik tidak dihargai semurah itu. Biasanya kalau Mima ikut kak Beth ke pelelangan barang antik di Barcelona, harganya bisa sampai jutaan dollar. Tapi, hanya itu uang yang Mima punya sekarang. Bapak iklas, kan ? “
Komandan kapak merah belum sembuh dari kebingungan yang didapatnya pada mangsa pertamanya hari ini. Dia hanya mengangguk-angguk heran sambil berulang kali memandangi lembaran-lembaran uang ditangannya.
“ Makasih ya, mbak...., “
Byebye...., pak sales ! “
Mima melambai antusias pada komandan kapak merah yang kini berlalu. Komandan kapak merah pun balas melambai padanya.
Mima memandangi kapak merah yang kini ada di genggamannya. Mima ingin memperlihatkannya pada Papap, namun ternyata Papap belum bangun juga. Mima menepuk-nepuk pipi Papap hingga akhirnya Papap mulai siuman. Mima menyembunyikan kapak merah dibalik tubuhnya.
“ Nona Mima...... Anda tidak apa-apa ? “ Sembur Papap langsung.
Mima tersenyum begitu manis sehingga Papap dapat bernafas lega. Lampu merah masih menyala, tak membiarkan mobil-mobil bergerak dulu. Pak sopir masih membeku di kursi depan.
Papap, Mima beli barang antik. Papap mau lihat ? “
Mima berujar ria.
“ Barang antik ? Kapan belinya ? “
“ Barusan “
“ Sama siapa ? “
“ Ada yang bawain ! “
“ Mana barangnya ? “
“ Ini...... “
“ Akh !!!!!..... “
Papap pingsan lagi. Akh, Mima kesal ! Padahal dikiranya Papap akan bangga dirinya mempunyai minat yang sama dengan kak Cecile. Dulu Papap bilang ingin Mima tumbuh seperti kak Cecile. Tapi sekarang, Papap nggak asik, ah !
Mobil bergerak pelan. Mobil Mima kini berada tepat di samping lampu merah. Pemandangan tak lazim yang menampilkan Panca sebagai pemeran utama, terlihat sudah. Mima membuka kembali jendela mobilnya untuk memperhatikan.
“ Mas...., mas...., gila, ya ? “ Tanya Mima polos.
Panca mengalihkan pandangannya menatap Mima. Dalam hatinya dia iri. Gadis yang bertanya itu pasti orang kaya.
Gadis itu pasti bisa mendapatkan segala hal yang dia mau. Gadis itu bisa naik mobil ber-AC yang adem sedangkan Panca bahkan tak punya uang buat naik Kopaja. Gadis itu bisa jalan-jalan ke luar negeri sesuka hati, sedangkan Panca Cuma pernah jalan sampai ke Sukabumi. Itupun gara-gara terbawa truk pengangkut sayur yang mau pulang, waktu Panca ketiduran di bagian belakang mobil itu. Gadis itu pun bisa membeli barang-barang yang buat orang miskin seperti Panca, hanyalah khayalan menjelang tidur.
Enak banget jadi kaya !
Tapi ini nih sifat orang kaya yang nggak disukainya. Sombong banget sih nih cewek !
“ Kalau gue gila, emangnya lu ngiri ? “ Balas Panca kesal.
“ Kok nggak berobat di dokter jiwa, sih ? Miskin ya, mas ? “
Darah Panca semakin mendidih mendengar hinaan itu. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti tau dirinya memang miskin. Nggak perlu dikasih tau lagi gitu, lho !
“ Emangnya kenapa kalau gue miskin ? Lu mau ngebunuh gue, gitu ? Silahkan..., bunuh.... ayo bunuh gue ! Dari tadi juga gue tinggal disini biar disambar petir..., “
“ Terik begini, mana ada petir ! Idih, udah miskin, gila, bego lagi ! “
Panca mulai mengamuk. Beberapa orang didalam mobil dan yang lewat disekitarnya segera menelpon RSJ dan kepolisian terdekat.
“ Mima bukan pembunuh, mas. Mas gila miskin kan, pasti mas gila pengangguran. Nah,  Mima malah kepingin ngasih kerjaan buat mas. Biar jadi kaya, biar nggak gila lagi ! “
“ Kerjaan apa ? “
“ Jadi spy ! “
“ Mata-mata ? “
“ Iya. Hebat ya, orang miskin bisa bahasa Inggris !“
“ Gini-gini, gua pernah ngecap sekolahan, mbak ! Tapi kerjaan itu.... jadi penguntit, dong ! “
Mima mengangguk senang pemuda itu mengerti apa maksudnya.
“ Lu kira gue apaan ? Nguntit orang kan dosa dan bakal membuat dia terganggu !. Melanggar privacy banget. Lu mau privacy lu dilanggar ? “ Omel Panca.
Lampu hijau menyala, mempersilahkan mobil-mobil untuk mulai berjalan.
“ Terserah ! Ini kartu nama gue. Kalau berminat, kontak disitu, ya ! Tapi jangan lama-lama, gue nggak suka orang yang lama mikirnya. “
Mima melemparkan kartu namanya ke arah Panca yang masih berdiri dengan tampang sok sensitif. Kepala Panca melengos jauh, tapi matanya  mengerling memperhatikan.
“ Dasar gila, lu ! “ teriak Mima kencang diantara mobilnya yang mulai melaju kencang.

*

Panca melangkah dengan tubuh lemas menyusuri jalan pusat kota. Masuk gang keluar gang dan beberapa kali bolak-balik zebra cross.
Dia memikirkan tentang nasib hidupnya saat ini. Bagaimana dia bisa bertahan hidup jika semua kesialan masih merekat erat pada dirinya ? Apakah di kehidupan yang lalu dirinya terlahir sebagai Hitler, hingga di kehidupan kini hidupnya begitu menderita diatas kutukan begitu banyak orang....,
Di Zebra cross itulah Panca melihat seorang nenek berkebaya yang hendak menyeberang namun tak seorang pun mau membantunya. Karena disambar seseorang, nenek itu jatuh. Panca yang berjiwa sosial segera menghampiri hendak menolong.
Panca segera mengangkat nenek itu dengan kedua belah tangannya. Panca kaget banget melihat dandanan sang nenek yang menor abis.
“ Cu..... cucu........ Lu keren, deh ! “ Ujar si nenek dengan suara mendesah dan lidah menggeliat sok seksi.
Dengan rasa terkejut bercampur ketakutan, spontan Panca melepas pegangannya dari sang nenek, sehingga nenek itu jatuh.
“ Sialan lu, nggak sopan banget, sih ! Tolong ....., “ Pekik sang nenek marah.
Beberapa pemuda yang kebetulan berdiri tak jauh dari situ, segera mendatangi mereka.
“ Ada apa, nek ? “ Tanya seorang dari mereka.
“ Anak muda ini. Dia melecehkan nenek ! “
Tanpa mempedulikan gelengan kepala dan wajah terkejut Panca, pemuda-pemuda itu mulai memukulinya dengan sepenuh hati.
Nenek yang menjadi pokok masalah mengeluarkan pompom merahmuda dari dalam buntelan yang dibawanya, dan mulai mengiringi kejadian itu dengan gerakan cheer.
Let us cheer, cheer for the party, party on the street.... go...go... yeah !....
 Pemuda-pemuda terus memukuli Panca diiringi pekik sang nenek memberi semangat.
Dengan begitu, bertambah pulalah memar-memar di wajah Panca dengan bekas-bekas bogem pemuda-pemuda tersebut.
Hari mulai gelap ketika Panca sadar dari pingsannya. Seluruh tubuhnya terasa sakit sekali. Panca mengangkat tubuhnya dari troroar dengan susah-payah.
Saat mengebaskan bajunya yang dipenuhi debu, selembar kertas melayang keluar. Panca memungut kertas itu dari tanah dan membacanya. Ternyata kartu nama gadis yang menyapanya kemarin di lampu merah.
Ah, bagaimana ini ! terluntang-lantung di jalan ternyata amat tidak aman. Tapi kalau menerima pekerjaan ini, dia bisa berdosa.
Akh, peduli amat dengan dosa. Dirinya pun sudah sekarat, buat apa memikirkan orang lain.

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar